Selasa, 22 November 2016

RUMAH TROPIS

   
      1.       PENGERTIAN RUMAH TROPIS




Rumah Tropis adalah rumah dimana bentuk maupun elemen – elemen pembentuknya  dirancang sedemikian rupa sehingga cocok dan nyaman untuk daerah yang beriklim tropis. Konsep Desain Rumah Tropis akan mengoptimalkan potensi iklim tropis dan mengurangi dampak/ pengaruh buruk iklim tropis. Dengan kata lain konsep desain rumah tropis adalah konsep desain yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis. Sedangkan daerah beriklim tropis adalah daerah yang berada diantara garis 23 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan dan berada di sekitar garis khatulistiwa.

Kondisi iklim di daerah tropis sangat dipengaruhi oleh penyinaran matahari yang terjadi terus menerus setiap hari  sepanjang tahun. Faktor matahari inilah yang menjadi potensi sekaligus kendala iklim tropis. Cahaya matahari merupakan salah satu potensi iklim tropis yang melimpah setiap hari sepanjang tahun. Rata – rata daerah tropis menerima cahaya matahari hampir selama 12 jam sehari.

Namun daerah dengan iklim tropis juga mempunyai permasalahan yaitu kondisi udara yang panas akibat suhu udara dan kelembaban udara yang tinggi. Kondisi udara yang panas tersebut dirasakan melebihi batas ambang kenyamanan.


     2.       PRINSIP PRINSIP DESAIN RUMAH TROPIS

Permasalahan utama di daerah iklim tropis adalah permasalahan suhu udara yang cukup panas. Untuk itu dalam konsep desain rumah tropis, perlu adanya pengendalian suhu udara di dalam rumah. Pengendalian suhu udara dapat dilakukan dengan cara :

1)      Memperbesar volume ruang atap
2)      Memperbesar luas bukaan ventilasi agar volume angin yang masuk ke dalam ruangan menjadi lebih banyak
3)      Penataan ruang yang bersifat terbuka sehingga angin lebih mudah bergerak dalam ruangan
4)      Memasukkan unsur air berupa kolam juga akan mengurangi suhu udara
5)      Memperbanyak unsur tanaman / taman


     3.       CIRI CIRI RUMAH TROPIS

Desain arsitektur tropis merupakan gaya bangunan yang sesuai dengan lingkungan di wilayah tropis. Gaya ini memiliki beberapa ciri-ciri khas yang menjadikannya terlihat identik dan mampu menjadi pilihan untuk hunian yang nyaman. Ciri ciri nya adalah sebagai berikut :

1)     Ruang atap
Atap adalah payung atau pelindung rumah dari sinar matahari, hujan, dan angin. Model atap yang diperlukan adalah atap miring yg memiliki kemiringan minimal 30 derajat, sirap minimal 22,5 derajat, seng 15 derajat, serta tinggi langit langit minimal 2,70 m. Desain seperti ini dibuat dengan memperhatikan dari indikator cuaca.

2)     Dinding
Ciri khas dinding rumah tropis adalah dinding memiliki lobang lobang yang berfungsi sebagai ventilasi. Selain itu, dinding juga harus dilindungi dari radiasi matahari agar tidak meneruskan panas ke dalam ruangan. Penggunaan dinding pada konsep tropis sangat di minimalisir dan lebih memperbanyak teras agar pandangan ke luar semakin luas

3)     Warna eksterior rumah
Untuk menghadirkan nuansa tropis, cat dinding berwarna cerah dengan unsur alam sangat di rekomendasikan untuk menjadi unsur utama. Sedangkan pada lantai rumah, umumnya digunakan lantai dengan warna pasir dan terakota.

4)     Pembagian ruang
Pembagian ruang dalam rumah gaya tropis tidak selamanya harus tertutup, beberapa ruangan bisa dibiarkan terbuka tanpa sekat agar menciptakan kesan yang luas dan meningkatkan kualitas sirkulasi udara

5)     Keselarasan
Tercermin dari bagian depan rumah yang dihiasi berbagai macam tanaman yg dilengkapi dengan kursi kayu or bambu

6)     Fasad
Fasad pada rumah tropis umumnya menggunakan warna putih, coklat, orange, kuning

7)     Jendela dan pintu
Umumnya memiliki jendela yang besar dan pintu pintu yang lebar dan memiliki sebuah taman terbuka di dalam rumah

8)     Suhu udara
Suhu udara yang relatif panas dapat ditanggulangi dengan memasukan unsur unsur air ke dalam desain rumah seperti : kolam renang, kolam taman, kolam ikan dsb

9)     Matahari
Umumnya rumah bertema tropis memanfaatkan adanya sinar matahari lebih dan digunakan sebagai cahaya utama pada siang hari. Contohnya adalah penggunaan kaca patri atau skylight ( lubang bukaan cahaya pada bagian atas)



 4.   MATERIAL TROPIS

           Rumah dengan desain tropis mampu berperan seimbang dalam kondisi iklim di daerah tropis

 Hal tersebut karena rumah tropis menggunakan material yang ramah lingkungan, seperti bambu,    kayu, atau batu alam. Dan juga banyak dibalut memakai warna-warna alami dengan seperti hijau, biru,  putih, coklat, oranye, serta krem. Berikut adalah materialnya :
  • KAYU, material kayu dan karakter kulitnya bisa menjadikan rumah bergaya tropis, namun bisa juga menampilkan gaya klasik. Bahan kayu pada desain rumah tropis dapat Anda buat tampil lebih menarik dan tahan lama dengan memberi lapisan cat khusus untuk kayu seperti produk cat kayu SANLEX Sintetik. Dengan begitu, rumah tropis berornamen kayu akan lebih tahan lama.
  • BATU ALAM, batu-batu ini biasanya dikenal dengan batu-batu kali yang sudah dibentuk.Material batu alam akan membuat rumah tropis terlihat lebih natural. Anda bisa ciptakan tampilan batu alam yang kian alami, menarik, serta tahan lama dengan memberi lapisan pelindung yaitu cat khusus untuk batu, misalnya ARCA Seri Perlindungan Batu Alam.
  • BAMBU, rumah tropis dengan material bambu saat ini sudah banyak kita jumpai. Pemakaian bambu pada interior rumah tropis yaitu bisa lewat keberadaan furnitur kursi dan meja yang mampu membawa nuansa yang sangat sederhana namun akan terlihat segar. Aplikasi bambu pada hunian tropis juga bisa dalam bentuk bilik bambu, yaitu bambu yang diraut tipis kemudian dianyam. Bilik bambu dahulu identik dengan material rumah di perkampungan. Namun, sekarang bilik menjadi perhatian masyarakat kota untuk dipakai sebagai interior rumah seperti rumah bergaya tropis.
  • Serabut kelapa atau injuk, gunakan serabut kelapa yang berwarna hitam dan biasa dipakai sebagai penutup atap, seperti gazebo.



5.   CONTOH BANGUNAN TROPIS

Lovelli Residence, seminyak, bali



          Rumah ini sangat mencerminkan sebuah hunian yang besifat tropis. Hal ini jelas terlihat dari  bagian luar bangunan tersebut. Fasad menggunakan warna cat putih yang selain untuk menampilkan  sisi tropis bangunan itu sendiri, namun juga berfungsi sebagai pemantul panas sekaligus pemantul  cahaya agar tidak masuk berlebihan ke dalam ruangan




          Pada foto diatas, jelas bahwa bangunan ini telah mencerminkan sebuah hunian dengan konsep  tropis. Hal itu dikarenakan banyaknya tumbuhan yg ditanam disekitar bangunan yang juga merupakan  respon terhadap kondisi iklim yang ada di wilayah tropis untuk mensejukkan angin yang masuk ke  dalam ruangan. Selain itu, meminimalisir adanya sekat atau tembok juga diterapkan pada bangunan  ini. Hal itu dilakukan agar bangunan terkesan lebih luas dan sekaligus memeningkatkan kualitas  pertukaran udara pada ruangan. penggunaan kolam renang juga dapat meningkatkan kesejukan  disekiar wilayah tsb.




6. KESIMPULAN
    
    Bangunan tropis adalah bangunan yang didesain sedemikian rupa agar sesuai dengan kondisi alam tropis yang memiliki intesitas curah hujan dan musim panas yang tinggi. Material yang digunakan bersifat alami (natural) agar lebih menunjukan identitas bangunan sebagai bangunan tropis dan merupakan proses adaptasi bangunan terhadap alam disekitarnya.


7. SUMBER :

  • dupaint.com/cat/bijak-memilih/2945-material-untuk-desain-rumah-tropis.html
  • https://desainrumahtropis.wordpress.com/2013/01/10/konsep-desain-rumah-tropis/
  • http://www.desainic.com/12-desain-rumah-tropis-modern-minimalis/
  • http://www.homedsgn.com/2012/02/03/lovelli-residence-by-world-of-mouth/






Rabu, 09 November 2016

RUMAH KHAS KALIMANTAN SELATAN

                                      RUMAH KHAS KALIMANTAN SELATAN



Beribu-ribu budaya dan bangunan khas asli wisata Indonesia telah menjadi ciri tersendiri diantara keanekaragaman kebudaya di negeri kita ini. Salah satunya yang masih kental terasa di daerah Pulau Kalimantan dan disebuah propinsi yaitu Propinsi Sulawesi Selatan. Topografi Kalimantan Selatan yang pada umunya banyak memiliki sungai dan serta struktur tanah yang berawa dan bergambut, sedikit banyak berpengaruh terhadap bentuk dan struktur bangunan Rumah Adat di Kalimantan Selatan.

Rumah adat Kalimantan Selatan memiliki beberapa ciri dan fungsi, umumnya rumah adat Kalimantan Selatan disebut dengan Rumah Banjar, setiap rumah memiliki struktur dan bentuk sesuai kasta dari sang empunya atau fungsi rumah itu sendiri.


1. RUMAH BUBUNGAN TINGGI



Rumah Bubungan Tinggi yang berfungsi sebagai bangunan Dalam Sultan (kedaton) yang diberi nama Dalam Sirap, merupakan rumah yang paling tinggi kastanya. Yang berfungsi sebagai istana kediaman sultan. Kualitas serta kemegahan seninya mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah.


Ciri - Ciri 

Ciri-ciri rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjukkan dengan bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Ukiran-ukiran tersebut biasanya terdapat pada tiang, tataban, papilis, dan tangga. Bentuk dan seni ukir inipun banyak mendapat pengaruh dari Agama Islam, kebanyakan motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang gading dan naga juga dibumbui dengan motif floral. Selain bentuk floral dan binatang tedapat juga ukiran-ukiran berbentuk kaligrafi. Namun ciri yang mecolok adalah sebagai berikut :


•Atap Sindang Langit tanpa plafon


Sindang Langit adalah atap sengkuap pada teras rumah Banjar di Kalimantan Selatan, sedangkan pada rumah Bubungan Tinggi keseluruhan atap yang menutupi Palatar, Panampik Kacil, Panampik Tangah, dan Panampik Basar disebut Bubungan Sindang Langit atau Atap Sindang Langit.

•Tangga Naik selalu ganjil
 Jumlah anak tangga naik yang digunakan selalu berjumlah ganjil karena dianggap membawa  keselamatan

•Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir


Pamedangan / pelataran (teras) diberi kandang rasi berukiran yang memiliki arti keselamatan menurut rakyat kalimantan.


Konstruksi bangunan



Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu :

1.Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
2.Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut Anjung.
3.Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi.
4.Bubungan atap sengkuap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit.
5.Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.
6.Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya


Ukuran bangunan

Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal.
Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.
Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil.
Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain.
Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter.
Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.


Denah



Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :

1) Palatar (pendopo atau teras)
Ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.

2) Pacira
Yaitu ruang antara (transisi) yang terbagi dua bagian yaitu pacira dalam dan pacira luar. Pacira Dalam berfungsi untuk menyimpan alat pertanian, menangkap ikan dan pertukangan. Kedua pacira ini hanya dibedakan oleh posisinya saja. Pacira Luar tepat berada di muka pintu depan (Lawang Hadapan).

3) Panampik Kacil
Yaitu ruang tamu muka merupakan ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui Lawang Hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

4) Panampik Tangah
Yaitu ruang tamu tengah merupakan ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.

5) Panampik Basar atau Ambin Sayup
Yaitu ruang tamu utama merupakan ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter

6) Palidangan atau Ambin Dalam
Yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.

7) Panampik Dalam atau Panampik Bawah
Yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.

8) Padapuran atau Padu
Yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.



2.RUMAH GAJAH MANYUSU



Rumah Gajah Manyusu adalah nama kolektif untuk semua bentuk-bentuk rumah tradisional suku Banjar dengan ciri khasnya pada bangunan induknya menggunakan atap perisai buntung.
Rumah ini mempunyai ciri pada bentuk atap limas dengan hidung bapicik (atap mansart) pada bagian depannya. Anjung mempunyai atapPisang Sasikat, sedang surambinya beratap Sindang Langit.
Bentuk sampai dengan anjung sama dengan Gajah Baliku. Yang berbeda adalah adalah bagian padu. Panampik padu diberi dua buah Ambin Sayup yang bentuknya lebih kecil dari anjung dan lebih rendah letaknya.


Ciri – Ciri 

Ciri khas pada bangunan gajah manyusu adalah sebagai berikut :

•Pada mulanya tubuh bangunan induk rumah adat Gajah Manyusu ini memiliki konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang dari depan ke belakang yang ditutupi pada bagian depannya dengan menggunakan atap perisai buntung yang dalam bahasa Banjar disebut Atap Hidung Bapicik. Atap perisai buntung ini menutupi mulai ruang Surambi Pamedangan hingga ruang-ruang yang ada di belakangnya. Bentuk bangunan pokok ini biasa dinamakan Rumah Hidung Bapicik.

•Dalam perkembangannya kemudian Rumah Hidung Bapicik yang berbentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan ruangan hanya pada salah satu sisi bangunan pada samping kiri atau kanan bangunan ataupun bisa juga pada kedua-duanya baik sisi kiri maupun kanan secara simetris dan posisinya agak ke belakang. Kedua ruangan ini berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Ruang tambahan ini disebut anjung. Bentuk inilah yang dinamakan Rumah Gajah Manyusu. Rumah Gajah Manyusu yang memiliki dua buah anjung secara simetris ini dinamakan Rumah Gajah Manyusu Ba'anjung Dua. Pada tipe pertama pada kedua-dua buah anjung tersebut ditutup dengan atap sengkuap Pisang Sasikat sehingga dinamakan Rumah Gajah Manyusu Ba'anjung Pisang Sasikat. Dalam perkembangannya selanjutnya di belakang Anjung Kanan dan Anjung Kiwa yang beratap sengkuap Pisang Sasikat ini selanjutnya disumbi (disambung) dengan atap jurai luar (jurai laki) sehingga ruangan tambahan ini dinamakan Anjung Jurai Kanan dan Anjung Jurai Kiwa. Sedangkan pada tipe kedua pada kedua-dua buah anjung tersebut ditutup dengan atap perisai sehingga ruang tersebut menjadi model anjung Ambin Sayup maka dinamakan Rumah Gajah Manyusu Ba'anjung Ambin Sayup.

•Alternatif Pengembangan bentuk Rumah Gajah Manyusu Ba'anjung Dua lebih lanjut dengan menyambung atap sengkuap emper depan Sindang Langit dengan tambahan atap emper samping kanan maupun kiri bangunan hingga anjung kanan dan atap anjung kiwa disertai penambahan tiang-tiang empernya seperti pada model Rumah Balai laki, Rumah Balai Bini dan Rumah Palimbangan.

•Pada bentuk dasar rumah Gajah Manyusu pada terasnya terdapat 4 buah pilar yang menyangga emper depan (bahasa Banjar : karbil) yang memakai model atap sengkuap yang disebut atap Sindang Langit. Empat pilar penyangga emper depan (karbil) pada teras tersebut dapat diganti model konsol.

Pada Tawing Hadapan terdapat tangga naik yang disebut Tangga Hadapan dengan posisi lurus ke depan.




Denah




Rumah khas kalimantan selatan yaitu gajah manyusu memiliki urutan ruang sebagai berikut :


1) Surambi Sambutan
Serambi/teras yang merupakan ruang terbuka yang umumnya ditutupi atap sengkuap yang dinamakan Pisang Sasikat (atau atap model lain) yang terdapat pada emper depan rumah Banjar yang berfungsi untuk menyambut tamu. Pada ruang terbuka ini bisanya terdapat pilar penyangga emper depan yang pada umumnya berjumlah 4 buah (namun pada rumah yang memakai teras yang melebar ke samping kiri dan kanan, jumlah pilar depan biasanya berjumlah 6 buah atau lebih)

2) Palatar atau Pamedangan
Beranda / palatar dalam yang merupakan ruang setengah terbuka pada rumah tradisonal suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Ruangan Pamedangan ini termasuk bagian dari tubuh bangunan rumah induk, biasanya tertutup dinding sisi kiri maupun kanan dan masing-masing terdapat jendela berdaun dua

3) Paluaran
Ruang tamu utama pada bagian dalam rumah Banjar yang bersifat Semi Private.

4) Palidangan
Atau Ambin Dalam adalah ruang dalam yang berada dibelakang Tawing Halat yang merupakan ruang induk pada jenis-jenis rumah Banjar.

5) Padapuran/Padu
Merupakan ruang Pantry atau dapur yang merupakan bagian service



3.RUMAH BALAI BINI


Rumah Balai Bini adalah salah satu jenis rumah Baanjung yaitu rumah tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan. Rumah adat tipe Balai Bini biasanya dimasa Kesultanan Banjar dihuni oleh para puteri Sultan atau warga Sultan dari pihak perempuan. Rumah Balai Bini merupakan tempat tinggal para pengasuh.

Pada Rumah Balai Bini, tubuh bangunan induk memakai atap perisai yang disebut Atap Gajah, sedangkan sayap bangunan (anjung) memakai atap sengkuap/lessenaardak yang disebut Atap Anjung Pisang Sasikat


Ciri - Ciri 

•Pada mulanya tubuh bangunan induk rumah adat Balai Bini ini memiliki konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang dari depan ke belakang yang ditutupi pada bagian depannya dengan menggunakan atap perisai yang dalam bahasa Banjar disebut Atap Gajah. Atap perisai ini menutupi mulai ruang Surambi Pamedangan hingga ruang-ruang yang ada di belakangnya. Bentuk bangunan pokok ini biasa dinamakan Rumah Gajah.

•Dalam perkembangannya kemudian Rumah Gajah yang berbentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan ruangan hanya pada salah satu sisi bangunan pada samping kiri atau samping kanan bangunan atau kedua-duanya baik sisi kiri maupun kanan secara simetris dan posisinya agak ke belakang. Kedua ruangan ini berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Ruang tambahan ini disebut anjung. Kedua buah anjung ini ditutup dengan atap sengkuap yang disebut Atap Pisang Sasikat, bentuk inilah yang dinamakan Rumah Balai Bini. Dalam perkembangannya selanjutnya di belakang Anjung Kanan dan Anjung Kiwa yang beratap sengkuap Pisang Sasikat ini selanjutnya disumbi (disambung) lagi dengan atap jurai luar (jurai laki) sehingga ruangan tambahan ini dinamakan Anjung Jurai Kanan dan Anjung Jurai Kiwa.

•Perkembangan Rumah Balai Bini lebih lanjut terdapat pada atap sengkuap Sindang Langit (atap emper depan) yang ditambahi Jurai Luar yang melebar ke atap emper samping kanan maupun kiri bangunan yang menyatu dengan atap anjung kanan dan atap anjung kiwa disertai penambahan tiang-tiang emper.


Denah






Urutan ruang yang terdapat pada rumah adat bilik bini adalah sebagai berikut :

1)Surambi Muka
Merupakan emper depan rumah dilengkapi dengan tangga berjenjang dalam jumlah ganjil misalnya tiga atau lima trap untuk menaiki Surambi Sambutan.

2)Surambi Sambutan (Ambin)
Merupakan teras terbuka dikelilingi railings yang disebut Kandang Rasi dilengkapi dengan tangga berjenjang dalam jumlah ganjil misalnya tiga atau lima trap untuk menaiki Surambi Pamedangan.

3)Pamedangan (paseban/palatar dalam)
Merupakan ruang setengah terbuka dikelilingi railings yang disebut Kandang Rasi.

4)Paluaran atau Ambin Sayup
Merupakan Ruang Tamu, paluaran menggunakan tataban

5)Palidangan atau Ambin Dalam
Diapit oleh Anjung Kanan dan Anjung Kiwa.

6)Padapuran atau Padu
Merupakan ruang Pantry.

7)Surambi Sambutan
Terdapat 4 buah pilar yang menyangga atap emper depan memakai atap sengkuap yang dalam bahasa Banjar disebut Atap Sindang Langit. Keempat pilar ini dapat pula diganti dengan konsol.

8)Dinding depan (Tawing Hadapan)
Terdapat 1 Lawang Hadapan (pintu masuk), di antara pintu masuk terdapat jendela sebelah kanan dan kiri.

9)Serambi pamedangan (teras)
Menggunakan pagar Kandang Rasi.

10)Sayap bangunan (anjung)
Memakai atap sengkuap/zaldedaak ( atap pisang sasikat) seperti pada rumah Bubungan Tinggi.

11)Bagian atas teras (serambi Pamedangan)
Kadang-kadang memakai bentuk lengkung (gerbang).

12)Surambi Sambutan (teras emper), menggunakan pagar Kandang Rasi.



4.RUMAH BALAI LAKI


Rumah Ba'anjung tipe Balai Laki adalah salah satu jenis rumah Baanjung yaitu rumah tradisional suku Banjar (disebut rumah Banjar) di Kalimantan Selatan. Rumah adat Banjar tipe ini dalam sejarah Banjar dikenal sebagai rumah hunian para Punggawa mantri dan para prajurit pengawal keamanan Kesultanan Banjar.
Bentuk atap pada bangunan depan/rumah induk Rumah Ba'anjung Balai Laki memakai atap pelana, sedangkan pada sayap bangunan (Anjung) memakai atap sengkuap yang disebut atap Pisang Sasikat seperti pada rumah Bubungan Tinggi.
Dalam bentuk umum Balai Laki sama dengan Palimbangan, tetapi dengan ukuran lebih kecil dan sama-sama menggunakan atap pelana dan diberi Sungkul Atap bertatah dan bisa memakai anjung namun berbeda bentuknya.


Ciri – ciri 


•Tubuh bangunan induk rumah adat Balai Laki ini memiliki konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan yang ditutupi pada bagian depannya dengan menggunakan atap pelana, sehingga terlihat tebar layar yang dalam bahasa Banjar disebut Tawing Layar. Atap pelana ini menutupi mulai ruang Pamedangan (Paseban) hingga ruang-ruang yang ada di belakangnya. Bentuk bangunan pokok ini biasa dinamakan Rumah Laki (bahasa Betawi: Rumah Gudang)

•Dalam perkembangannya kemudian Rumah Laki yang berbentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan ruangan hanya pada salah satu sisi bangunan pada samping kiri atau kanan bangunan atau kedua-duanya baik sisi kiri maupun kanan secara simetris dan posisinya agak ke belakang

•Dalam perkembangannya selanjutnya di belakang Anjung Kanan dan Anjung Kiwa yang beratap sengkuap Pisang Sasikat ini selanjutnya disumbi (disambung) dengan atap jurai luar (jurai laki) sehingga ruangan tambahan ini dinamakan Anjung Jurai Kanan dan Anjung Jurai Kiwa

•Dinding rumah yang menghadap ke depan disebut Tawing Hadapan dengan satu pintu masuk Lawang Hadapan, sedangkan sebelah kanan dan kiri pintu depan masing-masing terdapat jendela berjeruji berdaun dua membuka ke depan pula.

•Beranda atau palatar dalam disebut Pamedangan (Paseban) yang ditopang oleh 4 (empat) buah pilar yang merupakan bagian dari tiang struktur. Pada sisi depan atas ruang Pamedangan terdapat Jurai Atas (tirai atas) dalam posisi menghadap ke depan yang tersusun dari papan ukiran mendatar atau melengkung

•Selanjutnya pada atap bangunan induk Rumah Balai Laki tersebut pada emper depannya disambung dengan atap sengkuap yang disebut Atap Sindang Langit sehingga dibawahnya terbentuk teras serambi yang disebut Surambi Sambutan atau Ambin

•Perkembangan lebih lanjut untuk memperluas area atap emper Sindang Langit tersebut disumbi/ditambahi Jurai Luar sehingga atap ini semakin melebar ke emper samping kanan maupun emper samping kiri bangunan induk sehingga bertemu atau menempel dengan atap anjung kanan dan atap anjung kiwa disertai penambahan tiang-tiang emper (tihang anak)



Denah




1)Surambi sambutan (ambin)
Serambi/teras yang merupakan ruang terbuka yang umumnya ditutupi atap sengkuap yang dinamakan Pisang Sasikat (atau atap model lain) yang terdapat pada emper depan rumah Banjar yang berfungsi untuk menyambut tamu

2)Pamedangan (paseban)
Beranda / palatar dalam yang merupakan ruang setengah terbuka pada rumah tradisonal suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dan sekitarnya

3)Paluaran (ambin sayup)
Ruang tamu utama pada bagian dalam rumah Banjar yang bersifat Semi Private

4)Palidangan (ambin dalam)
Ruang dalam yang berada di belakang Tawing Halat yang merupakan ruang induk pada jenis-jenis rumah Banjar

5)Padu (padapuran)
Ruang pantry pada rumah Banjar (rumah Bubungan Tinggi) yang terletak pada bagian paling belakang rumah Banjar dan pada bagian tersebut terdapat ruang Pambasuhan (Ruang Basuhan) untuk tempat mencuci



SUMBER :

  • https://id.wikipedia.org
  • http://kisahasalusul.blogspot.com/2016/03/rumah-adat-kalimantan-selatan.html
  • http://www.getborneo.com/rumah-adat-kalimantan-selatan/

Sabtu, 15 Oktober 2016

ANALISA TIPOLOGI BANGUNAN - ARSITEKTUR KLASIK DAN ARSITEKTUR MODERN

 ARSITEKTUR KLASIK



Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik mendesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani, seperti yang digunakan di Yunani kuno pada periode Helenistik dan Kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya.

Perkembangan arsitektur di Yunani dimulai dari sejarah peradaban bangsa – bangsa yang mendiami pulau Kreta, Mikena dan wilayah dataran Yunani, yaitu:
  • Bangsa Minos (Minoan) 1600 SM


  • Bangsa Mikena (Mycenaean) 1100 SM


  • Bangsa Yunani (Greece) 800 SM

Ketiga bangsa tersebut memiliki ciri khas antara lain kehidupan yang damai (Minoan); masyarakat yang ahli dalam bangunan, seni, administrasi, perang (Mycenaean); politik bebas dan kesamaan pola budaya (Greece).

Pada perkembangannya terdapat 3 kebudayaan yang berpengaruh, yaitu :

  1.  Kebudayaan Creta (1500 – 1100SM)



 

Penduduknya berasal dari Asia Kecil yang berimigrasi ke pulau Kreta dan sekitarnya serta membawa budaya asalnya. Namun pada tahun 1400 SM dikuasai bangsa Mikena dan mencapai masa kejayaan pada tahun 1200 SM.

Bangunan rumah tinggal menggunakan atap datar yang merupakan typical daerah timur, sedangkan cahaya dimasukkan melalui celah-celah lubang atap. Ruang menggunakan “Cella”, yaitu ruang yang keempat sisinya tertutup (massif dengan satu sisi sebagai bukaan (pintu).

Pada masa ini orientasi bangunan menghadap dari utara – selatan, dengan fasad bangunan yang simetris dan dinding dalamnya biasanya terdapat lukisan dinding yang disebut FRESKA.

            Bahan bangunan pada masa ini adalah :
            
            ~) Memakai batu pecah atau batu gamping /gips yang dikeraskan untuk lapisan lantai
            ~) Dinding menggunakan bata yang dikeringkan
            ~) Dan atap menggunakan kayu

    2.  Kebudayaan Cycladic




       Arsitekturnya hampir sama dengan dengan kebudayaan bangsa Creta, namun pada                              istana terdapat rumah – rumah kecil yang disebut Megaron.

           Megaron, adalah unit rumah tinggal dengan fasilitas :
           
           ~) Berbentuk cella yagn dilengkapi dengan lobby/vestibulle.
           ~) Entrance dan serambi depan yang mengarah kedalam.
           ~) Thelamus (ruang tidur) yang diletakkan di bagian paling belakang.



     Pada periode geometris (1100 – 700 SM), bangsa Mikena dikalahkan oleh bangsa Dorian yang disiplin , kesukuan dan berjiwa militan. Pada masa ini muncul dasar – dasr perencanaan dalam arsitektur ;yaitu ORDER, PRODUKSI, KESEIMBANGAN , dan KEBIJAKSANAAN.

     Pada periode Archaic (700 – 500 SM), masyarakat mengenal bahan Stuco (campuran kapur dan marmer bubuk) juga bentuk bangunan 4 persegi panjang dengan dinding tanpa lubang jendela dan dikelilingi oleh kolom – kolom ( PERISTYLE ). Order Doric dan Ionic diperkenalkan melalui kolom- kolom bangunan. Konsep dari struktur yaitu POST dan LINTEL.


3.   Arsitektur Yunani daratan
          
          Ada dua phase peradaban Yunani Daratan, yaitu Hellenic dan Hellenistik.

                 a)  Phase Hellenic (650 – 323 SM)



     Karakter masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kepercayaan dan seni, sehingga kuil menjadi bagian yang terpenting. Pada mulanya kuil mengambil bentuk dasar dari Megaron selanjutnya dikembangkan.
          
       Konstruksi utama memakai system kolom (tiang) dan balok (gelagar). Bentuk-bentuk dari konstruksi kayu ditiru pada bahan yang lain yaitu marmer “Carpentry in marble” mulai tahun 600 BC. Dinding memakai bata yang dikeringkan atau dengan terakota.
    
     Penyelesaian eksterior lebih dipentingkan karena masyarakat Yunani berkosentrasi pada elemen yang cocok dengan iklim serta masyarakat pemakainya (masyarakat Yunani senang dengan udara terbuka) terutama Kuil dan Agora.
   
      Hubungan dengan dewanya terjadi di udara terbuka dengan angin yang berhembus sepoi melalui “Collonade” yaitu barisan tiang yang menopang atap pada serambi memanjang serta “Portico” yaitu barisan tiang penopang atap pada serambi depan (memendek), sebagai ucapan selamat datang dengan permainan bayangan gelap terang oleh tiang (kolom) gaya Doric yang tertimpa sinar matahari.
  
     Disempurnakannya order Dorie, Ionic, Corinthian. Dan bermunculan bangunan - bangunan baru seperti STOA, Theatre, dan Balai Pertemuan


                 b)  Phase Hellenistik (323 – 30 SM)




  Pada tahun 480 BC Persia menghancurkan Yunani, Akropolis kota diatas bukit sebagai kompleks bangunan suci juga ikut hancur. Oleh Perikles pemimpin Yunani, Athena dibangun kembali.

   Pada phase ini banyak dibangun public building (bangunan umum) yang berkembang sangat pesat, bervariasi dan berkesan megah.

   Banyak dibangun “Stoa” yaitu teras memanjang bertiang banyak yang menghubungkan antara bangunan yang satu dengan yang lainnya serta berfungsi sebagai tempat untuk diskusi yang beratap agar terhindar dari hujan dan terik matahari. Stoa merupakan pasangan dari “Agora” yaitu tempat untuk pertemuan umum di luar juga sekaligus sebagai pasar bagi masyarakat Yunani (terutama di Athena).


     Ciri – ciri Arsitektur Yunani, yaitu :

  • Simplicity ( Kesederhanaan )
          NARCICISME yaitu mencinyai kesederhanaan pribadi
  • Clarity ( Kejelasan )
          Bentuk struktur yang sederhana terdiri dari tiang dan balok
  • Adaptif (dapat diterapkan dimana saja)
  •  Exterior intention (mengutamakan ruang luar)
          Kegiatan lebih banyak diluar gedung
  • Dan terdapatnya order




     Tiga order Arsitektur Kuil Yunani

     Orang – orang Yunani mengembangkan 3 sistem arsitektur yang masing – masing dengan
     proporsi mereka sendiri yang khas dan detil, yaitu:

  •                  IONIC




             Gaya ionic yang tipis dan lebih elegan. Pada bagian puncaknya dihiasi dengan desain gaya ini ditemukan di Yunani Timur.
        
         Kolom ionik biasanya berdiri di atas dasar yang memisahkan batang kolom dari stylobate atau platform. Puncak kolom memiliki karakteristik volutes bergulir berpasangan yang diletakkan ditutup di bentuk (echinus) dari kolom, atau mata air didalamnya.

  •            DORIC




             Gaya ini terlihat kokoh dengan puncak yang biasa atau tidak berornamen. Gaya ini digunakan di daratan Yunani dan koloni di Itali selatan dan bagian sisilia. Kolom ini berdiri langsung di trotoar datar (stylobate)dari kuil, poros vertikal mereka bergalur pararel dengan alur cekung.

  •            KORINTUS


          

      Gaya ini terlihat lembut, langsing dan rumit. Pada bagian puncaknyadihiasi dengan daun Acanthus. Dalam hal proporsi, kolom ini mirip dengan kolom ionik yang mungkin dibuat lebih ramping, namun berdiri terpisah oleh modal yang khas yang di pahat.


            Peninggalan arsitektur di Yunani, adalah bukit ACROPOLIS, yaitu tempat bekas pertahanan yang berada di tempat yang strategis namun tidak terorganisir (sesuai dengan tapaknya yang berkontur). Di bukit inilah banyak terdapat peninggalan-peninggalan arsitektur, yaitu :

  • PROPILAE


      Yang merupakan gerbang ke tempat-tempat suci dan juga sekaligus sebagai tempat melakukan pagelaran seni dan pertemuan umum. Order yang ada pada bangunan ini adalah Doric dan Ionic yang terbut dari batu pualam dan jika terkena sinar matahari akan menghasilkan efek warna abu keemasan.

  • AGORA




           Yang merupakan tempat umum yang dipakai untuk tempat berkumpulnya masyarakat (semacam alun-alun yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan).

  • STOA

                  Merupakan tempat seperti teras dengan tiang yang berderet yang berfungsi untuk berteduh dari terik matahari dan hujan; juga sebagai pembatas yang menghubungkan dengan Agora.

  • THEATER



        Merupakan tempat pertunjukan yang bangunannya berbentuk setengah lingkaran yang terbuka dan menempel pada lereng-lereng gunung. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk persembahan tari drama dan nyanyi bagi dewa Dionisious.

  •   PARTHENON

              Merupakan bangunan persegi yang memanjang dengan deretan kolom luar yang bercirikan gaya Doric. Di tempat ini juga terdapat tempat patung dewa yaitu CELLA LONGITUDINAL.

  •   STADIUM DAN GYMNASIUM


           Sebagai tempat berolahraga yang merupakan bangunan terbuka.           




ARSITEKTUR MODERN



Arsitektur modern adalah sebuah sesi dalam perkembangan arsitektur dimana ruang menjadi objek utama untuk diolah. Jika pada masa sebelumnya arsitektur lebih memikirkan bagaimana cara mengolah façade, ornamen, dan aspek-aspek lain yang sifatnya kualitas fisik, maka pada masa arsitektur modern kualitas non- fisik lah yang lebih dipentingkan. Fokus dalam arsitektur modern adalah bagaimana memunculkan sebuah gagasan ruang, kemudian mengolah dan mengelaborasinya sedemikian rupa, hingga akhirnya diartikulasikan dalam penyusunan elemen-elemen ruang secara nyata.

Menurut Rayner Banham pada bukunya yang berjudul “Age of The Master : A Personal View of Modern Architecture”, 1978, perkembangan arsitektur modern menekankan pada kesederhanaan suatu desain. Para arsitek pada masa itu menginginkan bangunan rancangannya bersih dari ornamen dan sesuai dengan fungsinya dengan menghilangkan paham eclecticism pada tiap rancangannya. Arsitektur modern merupakan Internasional Style yang menganut Form Follows Function (bentuk mengikuti fungsi). Bentukan platonic solid yang serba kotak, tak berdekorasi, perulangan yang monoton, merupakan ciri arsitektur modern.
Menurut Peter Gossel dan Gabriele Leu Thauser dalam bukunya yang berjudul, “Achitecture in the 20th century”, 1991.

Ciri – ciri dari arsitektur modern adalah: 
  • Satu gaya Internasional atau tanpa gaya (seragam),Merupakan suatu arsitektur yang dapat menembus budaya dan geografis. 
  • Berupa khayalan, idealis 
  • Bentuk tertentu, fungsional,Bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monoton karena tidak diolah.  
  • Less is more ,Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap arsitektur tersebut. 
  • Ornamen adalah suatu kejahatan sehingga perlu ditolak,Penambahan ornamen dianggap suatu hal yang tidak efisien. Karena dianggap tidak memiliki fungsi, hal ini disebabkan karena dibutuhkan kecepatan dalam membangun setelah berakhirnya perang dunia II.
  • Singular (tunggal), Arsitektur modern tidak memiliki suatu ciri individu dari arsitek, sehingga tidak dapat dibedakan antara arsitek yang satu dengan yang lainnya (seragam). 
  • Nihilism, Penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidang-bidang kaca lebar. Tidak ada apa–apanya kecuali geometri dan bahan aslinya. 
  • Kejujuran bahan ,Jenis bahan/material yang digunakan diekspos secara polos, ditampilkan apa adanya. Tidak ditutup-tutupi atau dikamuflase sedemikian rupa hingga hilang karakter aslinya. Terutama bahan yang digunakan adalah beton, baja dan kaca. Material-material tersebut dimunculkan apa adanya untuk merefleksikan karakternya yang murni, karakter tertentu yang khas yang memang menjadi kekuatan dari jenis material tersebut. Memberi sentuhan plastis seperti membungkus bahan dengan bahan lain adalah upaya yang tidak dibenarkan karena dinilai mengaburkan, menghancurkan kekuatan asli yang dimiliki oleh bahan tersebut.


          Misal :

                 1)      Beton untuk menampilkan kesan berat, massif, dingin. 
                 2)      Baja untuk kesan kokoh, kuat, industrialis. 
                 3)      Kaca untuk kesan ringan, transparan, melayang.


 Pemahaman Bentuk dan Ruang dalam Arsitektur Modern 

Perkembangan Arsitektur Modern meliputi perkembangan pemikiran mengenai konsep fungsi, bentuk, konstruksi dan ruang. Namun dalam pembahasan ini penekanan lebih pada pembahasan bentuk dan ruang, ciri pokok dari bentuk adalah ”ada dan nyata atau terlihat atau teraba”, sedangkan ruang memiliki ciri khas “ada dan tak terlihat atau tidak nyata”. Berikut adalah penjelasan mengenai bentuk dan ruang :

  •   Bentuk


Bentuk dalam arsitektur modern adalah merupakan periode yang membingungkan bagi para praktisi, karena tidak ditentukan dan dibentuk dari fungsi maupun bahan bangunan yang dipakai. Tidak satupun dari fungsi maupun konstruksi tanpa pengaruhnya, dan pelaku yang antusias pada pemecahan fungsional yang baru dan metode baru struktur seperti terlibat juga pada ekspresi yang baru. 

Dalam arsitektur modern bentuk, fungsi dan konstruksi harus tampak satu kesatuan dan muncul menjadi bentuk yang khusus dan kita selalu mengharapkan solusi yang tepat agar menghasilkan bentuk yang spesifik antara gabungan ketiganya. Solusi-solusi yang unik umumnya layak karena teknik-teknik konstruksi modern menjadikan semua bentuk mungkin untuk dibangun. Bentuk yang diinginkan adalah bentuk-bentuk sederhana, karena semua style lama amat kompleks dan dipenuhi oleh ornamen. Bentuk dasar pada arsitektur modern adalah bentuk–bentuk geometri (platonic solid) yang ditampilkan apa adanya. 

  •    Ruang


Satu hal yang tak dapat disangkal tentang arsitektur modern adalah kesadaran dalam memanipulasi ruang. Dalam sejarah, ruang telah ada hanya didalam struktur (diluar hanyalah alam, ketidakaturan dan tidak dapat diukur). Renesan telah mengulangi proses dan dapat melihat tampak luar dari bangunan ( seperti yang dilakukan bangsa Yunani) dan terpisah dari seni. Ciri bangunan bangunan dari mereka : kecil, kotak, mempunyai pusat dan tertutup.

Konsep ruang pada arsitektur modern yaitu ruang tidak terbatas meluas kesegala arah, ruang terukur/terbatasi/terlihat bayangan strukturnya (segi empat) arsitektur dipahami dalam tiga dimensi, ruang dari arsitektur modern memiliki hubungan dengan pengamat. Ruang yang didalam merupakan eksperimen ruang tak terbatas dengan partisi yang dapat diterusuri melalui ruang-ruang yang dilalui. Pola perletakan ruang lebih mengalir dan berurutan berdasarkan proses kegiatan.

Pada perkembangannya arsitektur modern memiliki bentuk dan struktur yang tetap. Bagian fisik dari arsitektur modern sebagai pemecahan yang radikal dari sebuah masalah yang fungsional yang tidak dapat hilang sebagai bagian dari estetika yang merupakan manipulasi dari ruang yang tidak terbatas dan terukur.


Berikut adalah pendapat para arsitek terkemuka mengenai arsitektur modern:

v 
  •  Le corbuzier, [ villa savoye ]






1)      Ruang yang tercipta haruslah seefisien mungkin, sesuai dengan kaidah industri. Karena ruang adalah mesin untuk ditinggali/ditempati. Keindahan diperoleh dari purism (kemurnian), dimana bentuk-bentuk yang digunakan adalah bentuk yang halus dan sederhana. 

2)      Bentuk bangunan menggunakan modul manusia (le corbusier) karena bangunan ditekankan pada fungsinya. Bentuk bersifat kubisme dan futuris.


v 
  •  Mies van de Rohe, [ Farnsworth house, Fox River, Illinois ]






1)       Ruang haruslah sederhana dan apa adanya, karena dari situlah estitika berasal. Fleksibel adalah nilai tambah tersendiri bagi sebuah ruang yang dapat memberi kesan dinamis dan adaptif. Secara struktural ruang harus terpisah antara kolom dan dindingnya (skins & bones).

2)      Bentuk bersifat kubisme dan futuristik.

  •        Walter Gropius, [ Fagus Factory, Alfeld-an-der-Line ]




1)      Awal pembentukan ruang adalah dimulai dari suasananya, baru setelah itu beralih pada fungsi. Keindahan ditemukan dari produk industri dan bukan dari alam.

2)      Penciptaan bentuk bangunan, sesuai dengan pola perletakan ruang yang urut berdasarkan sequence proses kegiatan penghuninya. 

  •         Frank Lloyd Wright, [ Falling Water ]




 



1)      Ruang terbentuk karena interaksinya dengan lingkungan alam. Bagaimana lingkungan binaan merespon faktor-faktor alam, atau mengambil filosofi kesederhanaan dan kesempurnaan dari alam.

2)      Bentuk suatu bangunan sangat bersifat kontekstualism dengan merespon kondisi alam, korelasi alam,topografi dengan arsitektur terwujud pada bentuk bangunan yang mengadopsi bentuk site itu sendiri.




SUMBER :

*) http://cv-yufakaryamandiri.blogspot.co.id/2012/10/konsep-bentuk-dan-ruang-dalam.html
*) http://exzanu.blogspot.co.id/2010/06/perkembangan-arsitektur-yunani.html