Kamis, 13 Oktober 2016

DESAIN ARSITEKTUR YANG MEMPERDULIKAN LINGKUNGAN SEKITARNYA


     Green Architecture atau Arsitektur Hijau adalah arsitektur yang minim dalam mengonsumsi sumber daya alam, termasuk energi, air, dan material, serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

     Tujuan utama dari bangunan ramah lingkungan ini adalah mengurangi dampak negatif sebuah bangunan terhadap lingkungan dan kesehatan penghuninya. Yang menjadi ciri dari sebuah green building di antaranya adalah lebih banyak ruang terbuka untuk tanaman sehingga perbandingan antara bangunan dan ruang terbuka lebih harmonis.

        Ciri-ciri konsep green architecture ini adalah, pertama: bangunan memiliki banyak bukaan seperti jendela-jendela yang besar dan tinggi. Dengan banyak bukaan, rumah akan lebih banyak mengadopsi udara dan cahaya alami sekaligus mengurangi penggunaan energi listrik pada siang hari. Selanjutnya, bangunan-bangunannya lebih tinggi, yakni plafon yang dibuat lebih dari tiga meter. Ciri ke tiga, biasanya konsep seperti ini kerap memanfaatkan banyak lansekap, seperti taman di area depan maupun belakang bangunan.

      1.       PRINSIP-PRINSIP GREEN ARCHITECTURE :

  • Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).
  • Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
  • Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang /
  • Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.
  • Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
  • Merespon  keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.
  • Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan / Holism : Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita.

       2.       SIFAT-SIFAT PADA BANGUNAN BERKONSEP GREEN ARSITEKTUR

   Green Architecture (arsitektur hijau) mulai tumbuh sejalan dengan kesadaran dari para arsitek akan keterbatasan alam dalam menyuplai material yang mulai menipis. Alasan lain digunakannya arsitektur hijau adalah untuk memaksimalkan potensi site. Penggunaan material-material yang bisa didaur-ulang juga mendukung konsep arsitektur hijau, sehingga penggunaan material dapat dihemat.
  
  Green dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly(ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik).

A.) Sustainable (Berkelanjutan)

                 
                 Yang berarti bangunan green architecture tetap bertahan dan berfungsi seiring zaman,
                 konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam tanpa adanya perubahan
                 perubuhan yang signifikan tanpa merusak alam sekitar.

           B.) Earthfriendly (Ramah Lingkungan)

     
    Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep green architecture apabila
    bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap
    lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga
    menyangkut masalah pemakaian energi. Oleh karena itu bangunan berkonsep green
    architecture    mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek – aspek
    pendukung lainnya.

C.)  High Performance Building (Bangunan dengan Performa yang Baik)

   Bangunan berkonsep Green Arsitektur mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya
   dengan sifat – sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Mengapa pada
   bangunan Green Arsitektur harus mempunyai sifat ini? Salah satu fungsinya ialah untuk
   meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam
   (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology
   performance). Contohnya :

               1).    Penggunaan panel surya (solar cell) untuk memanfaatkan energi panas matahari
                       sebagai sumber pembangkit tenaga listrik rumahan.

              2.)    Penggunaan material – material yang dapat didaur ulang, penggunaan konstruksi
                      konstruksi maupun bentuk fisik dan fasad bangunan tersebut yang dapat mendukung
                      konsep Green Arsitektur. Bangunan perkantoran yang menggunakan bentuk bangunan
                      untuk menyatakan simbol Green Arsitektur.




Wind House / OPENSPACE DESIGN

 

  • Architects            : OPENSPACE DESIGN 
  • Location              : Noble Residence, Bangkok, Thailand
  • Lead Architects    : Chakrawan Smatasoraboosya, Monthon Sanguanpog, Songpon Jirayasi
  • Area                    : 675.0 sqmp
  • roject Year           : 2013



Pada project wind house ini, sang pemilik menerapkan design yang sesuai dengan kondisi lahan yang dimiliki. Lahan tersebut terdapat di tepi batas sebuah perumahan, sehingga memiliki kondisi alam yang masih terjaga nan hijau karena tidak tersentuh oleh pembangunan lanjutan yang berada di sekitarnya. Kondisi alam seperti ini memberikan kondisi nyaman dan tentram bagi pemiliknya.


Rumah ini dirancang dengan konsep “how to live comfortably with nature”. Oleh karena itu, orientasi bentuk bangunan dan ruang dalam bangunan ini harus memungkinkan agar angin bisa mengalir masuk ke dalam bangunan dan memungkinkan pula masuknya cahaya matahari tanpa menangkap panas yang berlebihan akibat sinar matahari, disaat yg sama juga sang arsitek merangcang agar sang pemilik bisa melihat taman luar dari dalam bangunan.


 





Bangunan ini dirancang dengan konsep C-Shape (berbentuk C), dimana pada sisi kanan menyediakan halaman yang cukup luas dan disisi sebrangnya merupakan area hijau yang cukup besar. Walaupun berkonsep Openspace, namun segi privasi pada bangunan ini tetap terjaga dengan adanya void yang dirancang sedemikan rupa sehingga dapat menghalang pandangan kedalam namun tetap menangkap angin dan cahaya yang sebanyak-banyaknya sehingga tetap mengacu pada konsep rumah yang bersahabat dengan alam.



Strategi design yang paling menonjol pada bangunan ini adalah untuk menciptakan “seemless boundary” atau tidak ada batas antara bangunan dengan alam, indoor, dan outdoor.  Semua area umum serta sirkulasi diperlakukan sebagai ruang "Semi-terbuka", di bawah atap tapi tanpa dinding, menghubungkan ke halaman harmonis. Selain itu, beberapa fungsi tertutup masih opsional untuk mendapatkan udara yang segar kadang-kadang dengan menggeser partisi tinggi penuh ke samping. Ini akan memungkinkan ruang pada bangunan untuk melihat lebih luas, lebih lapang dan untuk menangkap angin.



SUMBER :


Kamis, 23 Juni 2016

PRINSIP HIDUP NEGARA INDONESIA DAN NEGARA ARAB


A.) Prinsip Hidup Negara Indonesia




Perbedaan budaya dan etnis penduduk Indonesia sangat besar. Hal ini terjadi antara lain karena banyaknya suku bangsa yang mendiami kepulauan di Indonesia. Kelompok-kelompok penduduk yang saling berbeda ini memiliki keistimewaan masing-masing yang sekaligus menjadi ciri-ciri khas regional daerah tersebut.
Masing-masing suku juga  memiliki kebanggaan, kelemahan,  juga nilai-nilai  dan norma-norma. Semua ini dapat terlihat dalam kebiasaan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-harinya. Tentunya di antara perbedaan itu juga ada kesamaan, karena pada dasarnya mereka berasal dari satu bangsa. Bangsa Indonesia.

1. Terima nasib

Satu dasar pemikiran yang mempercayai bahwa bersamaan dengan kelahiran,  factor nasib seseorang sudah ditentukan. Biasanya factor nasib dalam kehidupan  akan muncul di permukaan bila sesuatu yang tidak  menyenangkan terjadi pada seseorang. Dalam hal ini sikap yang akan diambil oleh yang bersangkutan adalah:” Ya, sudahlah. Terima saja nasibmu. Itu sudah takdir dalam kehidupanmu”.

2. Hierarki

Seseorang yang dapat menerima adanya factor nasib akan mudah menerima adanya faktor hierarki dalam kehidupannya. Suatu ketidak samaan adalah hal yang biasa. Suatu pekerjaan yang fungsinya “mengerjakan”sesuatu untuk orang lain dalam hal ini bukanlah dianggap sebagai hal yang merendahkan diri. Jadi pekerjaan semacam supir, koki, baby sitter,  bukanlah pekerjaan yang hina.
Pekerjaan yang harus disyukuri karena mungkin memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sudah menjadi nasibnya. Untuk dapat menimbulkan rasa bersyukur atas apa yang dimilikinya, biasanya sejak kecil telah diajari  untuk tidak selalu melihat “ke atas”, tetapi sering-sering melihat “ke bawah”.

3. Rasa Hormat dan menghormati

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah Negara yang penduduknya sangat menghargai  norma-norma dan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-harinya. Di Indonesia kehormatan adalah salah satu  hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-harinya. Bila kehormatan seseorang dilanggar maka dia akan menjadi malu. Dan karena rasa malu ini bisa menyebabkan dia menjadi mata gelap.
Salah satu contoh yang jelas adalah, betapa tersinggung dan malunya seorang warga Bugis yang dalam tidurnya kentut kecil tetapi entah karena bunyinya yang terdengar aneh atau karena hal yang lain, yang hadir dan mendengarnya semuanya tertawa… Akibatnya dia mengambil parangnya dan dengan membabi buta menusuk  dan melukai beberapa yang hadir.

4. Halus

Satu kebiasaan sikap yang pada awalnya termasuk dalam tata tertib kehidupan “istana” dan kalangan atas. Kebiasaan ini dilakukan terutama untuk menghormati “rajanya”. Suatu sikap yang halus sebetulnya juga berhubungan erat dengan olah batiniah dan latar belakang social ekonomi serta pendidikan seseorang.
Dengan melalui olah batin ini,  akan mudah dicapai suatu sikap hidup yang lembut misalnya:  Lembut berbicara, tidak terlalu mengumbar kata, menghindari rasa cepat marah, sopan santun pada sesamanya dan tidak kasar dalam berkata dan bertindak. Belajar mengendalikan diri dan hidup dengan dasar “relativering” sangat mendukung prinsip dan sikap  hidup yang halus.
Keadaan lingkungan sosial ekonomi seseorang sangat mempengaruhi kebiasaan kehidupannya. Juga pendidikan memberikan sumbangan dalam cara berpikir dan berperilaku pada seseorang.
Seseorang yang tidak terlalu banyak bicara di Indonesia, bukanlah hal yang aneh. Justru dengan sikapnya itu kita bisa melihat sifat bijaksana yang dimilikinya. Misalnya, seseorang tidak perlu menggunakan kata-kata kasar, atau mencaci buta dan membentak-bentak orang lain untuk menyatakan ketidak setujuannya.
Gunakan cara yang halus dan sesubtiel mungkin’,  karena dengan cara ini, saya yakin akan lebih bisa mencapai sasarannya.  Daaaannn, tidak akan terjadi perang… Tentu semua ada kekecualiannya..

5. Anti-individualisme

Sebetulnya setiap orang Indonesia merasa dirinya menjadi anggota dari suatu kelompok tertentu. Sangat mustahil kalau seseorang tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Apapun alasannya. Bisa kita bayangkan, bagaimana  bisa berdiskusi kalau seseorang mengatakan saya tidak perlu kehadiran orang lain. Nanti khan dia akan meracu sendiri. Dan bisa-bisa jadi penghuni Rumah Edan di Heillo.
Kelompok yang terpenting dalam hal ini adalah: Keluarga. Siapa yang kehilangan rasa hormatnya entah karena kesalahan sendiri atau karena kesalahan orang lain, akan mempermalukan seluruh anggota keluarga yang bersangkutan. Misalnya, kasus perceraian. Keluarga menjadi marah besar karena khawatir bahwa perceraian itu akan menghancurkan nama baik keluarga, atau karena perceraian itu akan merusak status keluarga dalam kehidupan kemasyarakatannya…




B.) Prinsip Hidup Negara Arab




Bangsa Badui sebagai representasi kehidupan psikologis masyarakat Arab baik sebagai masyarakat nomand maupun urban. Orang Badui bukanlah bangsa gipsi yang mengembara tanpa mengetahui arah. Mereka telah mewakili bentuk adaptasi kehidupan terbaik manusia terhadap kondisi geografisnya yang dimonopoli oleh gurun. Perbedaan domisili antara perkotaan dan masyarakat gurun hanya dimotivasi oleh desakan kuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan perlindungan diri.
Orang Arab Badui merupakan gambaran nyata dari kondisi alam gurun yang penuh dengan kekerasan dan keganasannya. Sebuah karakteristik masyarakat yang dibentuk oleh keadaan geografis lingkungan tempat tinggalnya. Di antara karakteristik masyarakat Arab Badui adalah sebagai berikut:

1. Memiliki Etnosentrisme Historis Yang Kuat
Masyarakat Badui enggan untuk mengikuti pengaruh dan cara hidup asing, dan memilih untuk hidup dengan tradisi yang telah ditanamkan oleh para leluhurnya. Masyarakat ini selalu bertahan dengan tata kehidupan para pendahulunya baik dalam memilih tempat tinggal, berternak hewan, serta menganggap pertanian, perdagangan dan bahkan kerajinan akan menurunkan derajat mereka.

2. Memiliki Ikatan Darah Dan Kesukuan Yang Kuat

Gurun pasir yang gersang dan keras tidak hanya sekedar tempat tinggal tetapi juga sebagai penjaga tradisi sacral mereka, pemelihara kemurnian bahasa dan darah mereka, dan benteng pertahanan yang utama dan paling utama dari serangan musuh dari luar. Kondisi yang panas, langka akan persedian air dan makanan telah menjadikan karakter bangsa Arab enggan untuk menundukkan kepala pada kendali bangsa asing. Bagi orang badui tidak ada musibah paling hebat dan paling menyakitkan selain putus keanggotaan dengan sukunya. Mereka yang tidak memiliki suku manapun sungguh statusnya seperti buronan tanpa perlindungan dan keselamatan.
Dalam pandangan sosiologis Ibnu Khaldun bentuk ikatan klan tersebut merupakan bentuk kefanatikan kesukuan (ashabiyah) yang telah menjadi sifat antisocial yang individualism. Bentuk ciri khas klan Arab yang terus berkembang setelah kelahiran Islam dan merupakan salah satu factor penting yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran total berbagai kerajaan Islam.

3. Memiliki Nilai Kesukuan Yang Tinggi

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, mereka dikenal keras dan kejam terhadap musuhnya. Orang badui merupakan sahabat yang setia dan pemurah (dhiyafah) yang dibarengi dengan ketabahan (hamasah) dan kewibawaan laki-laki (muru’ah) yang dipandang sebagai salah satu nilai kesukuan yang tinggi. Kondisi alam yang keras dan tidak bersahabat telah menumbuhkan kepentingan  bersama untuk menjalankan satu tugas suci yaitu bersikap ramah dalam menyambut tamu.

4. Bangsa Yang Demokrat

Bangsa Arab secara umum dan masyarakat Badui terlahir sebagai seorang democrat di mana ia berhadapan dengansyaikh dalam kedudukan yang setara. Gelar malik (raja) tidak pernah digunakan orang Arab kecuali ketika merujuk pada penguasa-penguasa asing khususnya warga Ghassan dan warga Kindah yang telah dipengaruhi oleh Romawi dan Persia.

5. Berwatak Aristokrat

Selain bersifat demokratis, bangsa Arab juga memiliki sifat aristocrat. Ia memandang dirinya sebagai perwujudan dari pola penciptaan unggulan. Baginya bangsa Arab adalah bangsa terbaik (afkhar al-umam). Kemurnian darah, kefasihan bahasa, keindahan puisi, kekuatan pedang dan kudanya serta kemuliaan keturunannya (nasab) merupakan kebanggaan utama bangsa Arab. Mereka menganggap geneologi mereka setara dengan ilmu pengetahuan.

6. Bangsa yang Egaliter

Bangsa Arab merupakan bangsa yang menjunjung tinggi harkat martabat orang lain, mensejajarkan posisi dan status sosial dalam kehidupan masyarakat.

7. Memiliki gaya bahasa kiasan yang tidak bersifat lugas dan langsung

Gaya komunikasi orang Arab berbeda dengan pembicaraan orang-orang Barat (Amerika dan Jerman) yang berbicara dengan langsung dan lugas. Dalam hal berbicara, orang-orang Arab kurang menyampaikan pesan secara langsung dan lugas. Dengan kata lain, orang Arab masih tidak berbicara apa adanya, masih kurang jelas dan kurang langsung.



Sumber ; 
  • http://baltyra.com/2011/03/09/prinsip-prinsip-kehidupan-masyarakat-indonesia/
  • https://www.facebook.com/notes/dasuki/masyarakat-arab-tinjauan-sosiologis/282560018525646/

PERMASALAHAN KEMISKINAN DI INDONESIA

Kemiskinan di Indonesia




Antara pertengahan tahun 1960-an sampai tahun 1996, waktu Indonesia berada dibawah kepemimpinan Pemerintahan Orde Baru Suharto, tingkat kemiskinan di Indonesia menurun drastis - baik di desa maupun di kota - karena pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat dan adanya program-program penanggulangan kemiskinan yang efisien. Selama pemerintahan Suharto angka penduduk Indonesia yang tinggal di bawah garis kemiskinan menurun drastis, dari awalnya sekitar setengah dari jumlah keseluruhan populasi penduduk Indonesia, sampai hanya sekitar 11 persen saja. Namun, ketika pada tahun 1990-an Krisis Finansial Asia terjadi, tingkat kemiskinan melejit tinggi, dari 11 persen menjadi 19.9 persen di akhir tahun 1998, yang berarti prestasi yang sudah diraih Orde Baru hancur seketika.

Tabel berikut ini memperlihatkan angka kemiskinan di Indonesia, baik relatif maupun absolut:

STATISTIK KEMISKINAN DAN KETIDAKSETARAAN DI INDONESIA:

 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Kemiskinan Relatif
(% dari populasi)
 17.8 16.6 15.4 14.2 13.3 12.5 11.7 11.5 11.0
Kemiskinan Absolut(dalam jutaan)   39   37   35   33   31   30   29   29   28
Koefisien Gini/
Rasio Gini
    - 0.35 0.35 0.37 0.38 0.41 0.41 0.41    -
Sumber: Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS)
Tabel di atas menunjukkan penurunan kemiskinan nasional secara perlahan. Namun, pemerintah Indonesia menggunakan persyaratan dan kondisi yang tidak ketat mengenai definisi garis kemiskinan, sehingga yang tampak adalah gambaran yang lebih positif dari kenyataannya. Tahun 2014 pemerintah Indonesia mendefinisikan garis kemiskinan dengan perdapatan per bulannya (per kapita) sebanyak Rp. 312,328. Jumlah tersebut adalah setara dengan USD $25 yang dengan demikian berarti standar hidup yang sangat rendah, juga buat pengertian orang Indonesia sendiri. Namun jika kita menggunakan nilai garis kemiskinan yang digunakan Bank Dunia, yang mengklasifikasikan persentase penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $1.25 per hari sebagai mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka persentase tabel di atas akan kelihatan tidak akurat karena nilainya seperti dinaikkan beberapa persen. Lebih lanjut lagi, menurut Bank Dunia, angka penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $2 per hari mencapai angka 50.6 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2009. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia hidup hampir di bawah garis kemiskinan. Laporan lebih anyar lagi di media di Indonesia menyatakan bahwa sekitar seperempat jumlah penduduk Indonesia (sekitar 60 juta jiwa) hidup sedikit di atas garis kemiskinan.
Dalam beberapa tahun belakangan ini angka kemiskinan di Indonesia memperlihatkan penurunan yang signifikan. Meskipun demikian, diperkirakan penurunan ini akan melambat di masa depan. Mereka yang dalam beberapa tahun terakhir ini mampu keluar dari kemiskinan adalah mereka yang hidup di ujung garis kemiskinan yang berarti tidak diperlukan sokongan yang kuat untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan. Namun sejalan dengan berkurangnya kelompok tersebut, kelompok yang berada di bagian paling bawah garis kemiskinanlah yang sekarang harus dibantu untuk bangkit. Ini lebih rumit dan akan menghasilkan angka penurunan tingkat kemiskinan yang berjalan lebih lamban dari sebelumnya.

KEMISKINAN DI INDONESIA DAN DISTRIBUSI GEOGRAFIS

Salah satu karakteristik kemiskinan di Indonesia adalah perbedaan yang begitu besar antara nilai kemiskinan relatif dan nilai kemiskinan absolut dalam hubungan dengan lokasi geografis. Jika dalam pengertian absolut lebih dari setengah jumlah total penduduk Indonesia yang hidup miskin berada di pulau Jawa (yang berlokasi di bagian barat Indonesia dengan populasi padat), dalam pengertian relatif propinsi-propinsi di Indonesia Timur menunjukkan nilai kemiskinan yang lebih tinggi. Tabel di bawah ini menunjukkan lima propinsi di Indonesia dengan angka kemiskinan relatif yang paling tinggi. Semua propinsi ini berlokasi di luar wilayah Indonesia Barat seperti Jawa, Sumatra dan Bali, yang adalah wilayah-wilayah yang lebih berkembang.

PROPINSI DENGAN ANGKA KEMISKINAN RELATIF TINGGI

Papua          27.8%
Papua Barat          26.3%
Nusa Tenggara Timur          19.6%
Maluku          18.4%
Gorontalo          17.4%
¹ persentase berdasarkan total penduduk per propinsi bulan September 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Tingkat kemiskinan di propinsi-propinsi di Indonesia Timur ini, di mana sebagian besar penduduknya adalah petani, kebanyakan ditemukan di wilayah pedesaan. Di daerah tersebut masyarakat adat sudah lama hidup di pinggir proses dan program pembangunan. Migrasi ke daerah perkotaan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pekerjaan dan - dengan demikian - menghindari kemiskinan.
Bertentangan dengan angka kemiskinan relatif di Indonesia Timur, tabel di bawah ini menunjukkan angka kemiskinan absolut di Indonesia yang berkonsentrasi di pulau Jawa dan Sumatra.

PROPINSI DENGAN ANGKA KEMISKINAN ABSOLUT TINGGI

Jawa Timur       4.7
Jawa Tengah       4.6
Jawa Barat       4.2
Sumatra Utara       1.4
Lampung       1.1
¹ dalam jumlah jutaan pada bulan September 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Poverty in Indonesia - Indonesia's Poorest Provinces - Relative and Absolute Poverty in Indonesian Society - Indonesia Investments Delft Jakarta
Stabilitas harga makanan (khususnya beras) adalah masalah penting bagi Indonesia sebagai negara yang penduduknya menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk membeli beras. Oleh karena itu,tekanan inflasi harga beras (misalnya karena gagal panen) dapat memiliki konsekuensi serius bagi mereka yang miskin atau hampir miskin dan secara signifikan menaikkan persentase angka kemiskinan di negara ini.

KEMISKINAN DI INDONESIA: KOTA DAN DESA

Indonesia telah mengalami proses urbanisai yang cepat dan pesat. Sejak pertengahan 1990-an jumlah absolut penduduk pedesaan di Indonesia mulai menurun dan saat ini lebih dari setengah total penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan (20 tahun yang lalu sekitar sepertiga populasi Indonesia tinggal di kota).
Kecuali beberapa propinsi, wilayah pedesaan di Indonesia relatifnya lebih miskin dibanding wilayah perkotaan. Angka kemiskinan pedesaan Indonesia (persentase penduduk pedesaan yang hidup di bawah garis kemiskinan desa tingkat nasional) turun hingga sekitar 20 persen di pertengahan 1990-an tetapi melonjak tinggi ketika Krisis Finansial Asia (Krismon) terjadi antara tahun 1997 dan 1998, yang mengakibatkan nilainya naik mencapai 26 persen. Setelah tahun 2006, terjadi penurunan angka kemiskinan di pedesaan yang cukup signifikan seperti apa yang ditunjukkan tabel dibawah ini:
 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Kemiskinan Pedesaan
(% penduduk yg hidup di bawah garis kemiskinan desa)
 20.0 21.8 20.4 18.9 17.4 16.6 15.7 14.3 14.4 13.8
Sumber: Bank Duna dan Badan Pusat Statistik (BPS)
Angka kemiskinan kota adalah persentase penduduk perkotaan yang tinggal di bawah garis kemiskinan kota tingkat nasional. Tabel di bawah ini, yang memperlihatkan tingkat kemiskinan perkotaan di Indonesia, menunjukkan pola yang sama dengan tingkat kemiskinan desa: semakin berkurang mulai dari tahun 2006.
 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Kemiskinan Kota
(% penduduk yg tinggal di
bawah garis kemiskinan kota)
 11.7 13.5 12.5 11.6 10.7  9.9  9.2  8.4  8.5  8.2
Sumber: Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS)
Dalam dua tabel di atas, terlihat bahwa pada tahun 2005 dan 2006 terjadi peningkatan angka kemiskinan. Ini terjadi terutama karena adanya pemotongan subsidi BBM yang dilakukan oleh pemerintahan presiden SBY diakhir tahun 2005. Harga minyak yang secara internasional naik membuat pemerintah terpaksa mengurangi subsidi BBM guna meringankan defisit anggaran pemerintah. Konsekuensinya adalah inflasidua digit antara 14 sampai 19 persen (yoy) terjadi sampai oktober 2006.

KETIDAKSETARAAN DI INDONESIA YANG SEMAKIN MELUAS?

Koefisien GINI, yang mengukur ketimpangan distribusi pendapatan, menunjukkan tren penurunan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah koefisien 0 menunjukkan kesetaraan yang sempurna, sedangkan koefisien 1 menunjukkan ketimpangan sempurna. Namun, kita masih dapat mempertanyakan metodologi koefisien GINI ini karena ia membagi penduduk dalam lima kelompok, masing-masing berisi 20 persen dari populasi: dari 20 persen terkaya sampai ke 20 persen termiskin. Selanjutnya, koefisien ini mengukur kesetaraan (dan ketimpangan) antara kelompok-kelompok tersebut. Ketika menggunakan koefisien ini untuk Indonesia masalah yang timbul adalah negara ini memiliki karakter ketidakseimbangan ekstrim dalam setiap kelompoknya, sehingga membuat hasil koefisien GINI kurang selaras dengan kenyataan. Terlebih lagi media di Indonesia sering melaporkan bahwa kesenjangan antara miskin dan kaya di Indonesia sebenarnya justru semakin meluas.

Sumber  ;
  • http://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/kemiskinan/item301#maintop