Jumat, 25 Januari 2019

Bab 1 : Pendahuluan (Kritik Arsitektur)


Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuno κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.

Kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah

Di dalam arsitektur terdapat berbagai macam kritik arsitektur yaitu ;

  •     Kritik Deskriptif
  •     Kritik Normatif
  •     Kritik Typical
  •     Kritik Impresionis
  •     Kritik Interpretif
  •     Kritik Terukur


     1. Kritik Normatif (Normative Criticism)
Hakikatnya kritik ini adanya keyakinan bahwa di lingkungan dunia manapun bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, sandaran sebagai sebuah prinsip. Norma juga berupa suatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi. Kritik Normatif dibagi dalam beberapa metode, yaitu :     
                                                                                               
-    Kritik Doktrinal (Doctrinal Criticsm) Norma yang bersifat general, pernyataan yang tak terukur.
-   Kritik Terukur (Measured Criticsm) Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif.
-      Kritik Tipical (Typical Criticism) Norma yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu katagori bangunan yang spesifik.
-    Kritik Sistematik (Systematic Criticism) Norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan.                                                                                                    


     2. Kritik Interpretif (Interpretive Criticism)
Kritikus pada jenis ini dipandang sebagai pengamat yang professional. Bentuk kritik cenderung subyektif dan bersifat mempengaruhi pandangan orang lain agar sejalan dengan pandangan kritikus tersebut. Dalam penyajiannya menampilkan sesuatu yang baru atau memandang sesuatu bangunan dari sudut pandang lain. Ada 2 teknik dalam menggunakan kritik ini, yaitu :                     
                                                 
-          Advocatory, Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempersona.
-          Evocative, Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotografis (gambar).        
 
                                                                        
     3. Kritik Impresionis (Imppressionis Criticism)
Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya. Kritik impresionis dapat berbentuk :

-          Verbal discourse (narasi verbal puisi atau prosa).
-          Caligramme (paduan kata)
-          Painting (lukisan)
-          Photo image (imagi foto)
-          Modification of building (Modifikasi bangunan)
-          Cartoon (menampilakan gambar bangunan dengan cara yang lebih menyenangkan).  
                            

     4. Kritik Deskriptif (Descriptive Criticism)
Dibanding kritik lain, kritik ini lebih terlihat lebih nyata (actual). Kritik ini mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap kota. Melihat sesuatu bangunan sebagaimana adanya tanpa me-judge atau me-interprete. Yang masuk metode pada kritik ini adalah :       
                                                                                                                        
-          Depictive (gambaran bangunan)
-          Grafis (static).
-          Verbal (dynamic).
-          Prosedur (Process)
-          Biographical (riwayat hidup)
-          Contextual (Peristiwa)                     
                                                                             
                  
     5. Kritik Terukur
menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu. Norma yang terukur digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini merupakan satu bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam yang diformulasikan untuk tujuan kendali rancangan arsitektural.

-   Pengolahan melalui statistik atau teknik lain secara matematis dapat mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi arsitektur.
-       Perbedaan dari kritik normatif yang lain adalah terletak pada metode yang digunakan yang berupa standardisasi desain yang sangat kuantitatif dan terukur secara amtematis.
-    Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
-       Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa :
§  Ukuran batas minimum atau maksimum
§  Ukuran batas rata-rata (avarage)
§  Kondisi-kondisi yang dikehendaki

Contoh :
Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif :
        Batas maksimal ketinggian bangunan
        Batas sempadan bangunan dan luas terbangun
        Batas ketinggian pagar yang diijinkan
        Standardisasi : Pencegahan kebakaran, batas maksmal toleransi reflektorcurtainwall logam atau kaca, penangkal petir, penggunaan air bersih dsb. Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma

Contoh :
Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui standardisasi harga-harga.
Norma atau standard yang digunakan dalam kritik terukur bergantung pada  ukuran minimum/maksimum, rata-rata atau kondisi yang dikehendaki yang selalu  merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.
Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai berikut:

-          Tujuan Teknis ( Technical Goals)
-          Tujuan Fungsi ( Functional Goals)
-          Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)

Tujuan Teknis

Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya secara teknis
Contoh :
Sekolah, dievaluasi dari segi pemilihan dinding interiornya. Pertimbangan yang perlu dilakukan adalah :

a.      Stabilitas Struktur
        Daya tahan terhadap beban struktur
        Daya tahan terhadap benturan
        Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan
        Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem

b.      Ketahanan Permukaan Secara Fisik
       Ketahanan permukaan
       Daya tahan terhadap gores dan coretan
       Daya serap dan penyempurnaan air

c.       Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan
       Kebersihan dan ketahanan terhadap noda
       Timbunan debu yang mungkin menempel
       Kemudahan dalam penggantian terhadap elemen-elemen yang rusak
       Kemudahan dalam pemeliharaan baik terhadap noda atau kerusakan teknis dan alami.

Tujuan Fungsional

Berkait pada penampilan bangunan sebagai lingkungan aktifitas yang khusus maka ruang harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area yang dapat digunakan untuk aktifitas tersebut
Pertimbangan yang diperlukan :

          Keberlangsungan fungsi dengan baik
          Aktifitaskhusus yang perlu dipenuhi
          Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan
          Kemudahan-kemudahan penggunaan,
          Pencapaian dan sebagainya.

Tujuan Perilaku

Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu. Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow Form
Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “Man-Environment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

  •  Persepsi Visual Lingkungan Fisik

Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

  • Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik

Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi. Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

  • Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku manusia.

Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb. Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan. Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.                                                                                                                           


6. Kritik Tipikal                                                                                                                       
Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian para sejarawan arsitektur. Hal ini dapat dipahami karena desain akan menjadi lebih mudah dengan mendasarkannya pada type yang telah standard, bukan pada innovative originals (keaslian inovasi).
Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, utilitas dan ekonomi dalam lingkungan yang telah terstandarisasi dan  kesemuanya dapat terangkum dalam satu typologi.

-   Menurut Alan Colquhoun (1969), Typology & Design Method, in Jencks, Charles, “Meaning in Architecture’, New York: G. Braziller :
Type pemecahan standard justru disebut sebagai desain inovatif. Karena dengan ini problem dapat diselesaikan dengan mengembalikannya pada satu convensi (type standard) untuk mengurangi kompleksitas.

-      March, Lionel and Philip Steadman (1974), The Geometry of Environment, Cambridge : MIT Press, bahwa pendekatan tipopolgis dapat ditunjukkan melalui tiga rumah rancangan Frank Lloyd Wright didasarkan atas bentuk curvilinear, rectalinear dan triangular untuk tujuan fungsi yang sama.

-    Kritik Tipikal diasumsikan bahwa ada konsistensi dalam pola kebutuhan dan kegiatan manusia yang secara tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan lingkungan fisik                      
                                                                                                                             
 Elemen Kritik Tipikal
Typical Criticsm didasarkan atas :

a.) Struktural (Struktur)

Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan dikaitkan dengan lingkungan yang dibuat dengan material yang sama dan pola yang sama pula.
-          Jenis bahan
-          Sistem struktur
-          Pemipaan
-          Duckting dsb.

b.)  Function (Fungsi)

Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama.
-          Kebutuhan pada ruang kelas
-          Kebutuhan auditorium
-          Kebutuhan ruang terbuka dsb.

c.)  Form (Bentuk)

-     Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain.

-       Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya.

-      Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya.

-        Menurut Mc. Donald (1976), The Pantheon, Cambridge: Harvard :
Secara simbolis dan ideologis Pantheon dapat bertahan karena ia mampu menjelaskan secara memuaskan dalam bentuk arsitektur, segala sesuatunya secara meyakinkan memenuhi kebutuhan dan inspirasi utama manusia.  Melalui astraksi bentuk bumi dan imaginasi kosmos dalam bentuk yang agung. Arsitek Pantheon telah memberi seperangkat simbol transedensi agama, derajad dan kekuatan politik.         
                                                                                              
Keuntungan Kritik Tipikal

-          Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu.
-          Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain
-          Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi.
-          Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama
-          Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain.

Kerugian Kritik Tipikal

-          Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal
-          Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard
-          Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type
-          Tidak memeiliki pemikiran yang segar
-          Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

Akibat Kritik Tipikal

-     Munculnya Semiotica dalam arsitektur,  satu bentuk ilmu sistem tanda (Science of sign systems) yang mengadopsi dari tipe ilmu bahasa. Walaupun kemudian banyak pakar menyangsikan kesahihan tipe ini. Dan menyebut Semiotica dalam arsitektur sebagai bentuk pseudo theoritic
-        Munculnya Pattern Language sebagaimana telah disusun oleh Christoper Alexander
-        Banyak penelitian yang mengarah pada penampilan bentuk bangunan
-        Lahirnya arsitektur yang tidak memiliki keunikan dan bangunan secara individual.






Referensi : http://faisridho7.blogspot.com/2015/11/jenis-jenis-kritik-arsitektur.html

Sabtu, 07 April 2018

BUKCHON HANOK VILLAGE



A.) SEJARAH

Kampung Hanok Bukchon (북촌 한옥마을) adalah sebuah kampung rumah tradisional Korea (hanok) di SeoulKorea Selatan. Bukchon bermakna Kampung Utara dikarenakan berlokasi di sebelah utara Kali Cheonggye (Cheonggyecheon) dan Jongno. Perkampungan ini sejarahnya merupakan permukiman dan tempat tinggal para pejabat dan anggota keluarga kerajaan Dinasti Joseon. Letaknya pun berada di antara Istana Gyeongbok dan Istana Changdeok.

Rumah ini memiliki arsitektur dan interior yang indah. Di Seoul, di antara bangunan-bangunan yang megah, kita masih bisa mendapati sisa peninggalan dari masa kejayaan dinasti Joseon. Sebuah kompleks bangunan perumahan yang terdiri dari barisan rumah-rumah tradisional khas Korea yang merupakan rumah-rumah para kaum bangsawan di masa itu. Bukchon terdiri dari area Wonseo-dong, Jae-dong, Gye-dong, Gahoe-dong dan Samcheong-dong di distrik Jongno (Jongno-gu). Kompleks ini terdiri dari beberapa lorong perumahan tradisional dan terletak di antara Gyengbokgung Palace dan Changdeokgung Palace tepatnya di sebelah utara Cheonggye Stream.

Bukchon Hanok Villagediantara antara dua istana dari Dinasti Joseon, Gyeongbokgung dan Changdeokgung. Tidak seperti desa-desa lain hanok, Bukchon tidak diciptakan bagi wisatawan, tetapi itu adalah sebuah desa hidup dihuni oleh warga Seoul, terdiri dari sekitar 900 hanoks tersebar di 11 (bagian administrasi) dongs. Bagian yang paling terkenal dari Bukchon Hanok Village adalah Gahoedong-gil (Alley), terletak di 31 Gahoe-dong, yang mengherankan pengunjung dengan melihat ratusan hanoks berkumpul bersama di Seoul midtown dan dengan pemandangan panorama kota dari atas gang. Gahoedong-gil juga populer dengan turis karena dikatakan yang terbaik dari “8 Views Bukchon”, delapan pemandangan Desa Hanok Bukchon.


B.) TIPOLOGI BANGUNAN 

1.) Jenis - Jenis hanok,

# Menurut kelas sosial, hanok terdiri dari :
- Rumah Yangban (kelas atas), 
- Rumah Jungin (kelas menengah) 
- Rumah masyarakat Biasa

# Menurut jenis atap, hanok terdiri dari :
Giwajip (rumah beratap genting) yang dihuni kalangan atas (yangban).

 Chogajip (rumah beratap jerami) yang dihuni kalangan petani.

2.) Ruangan, 

Tata letak internal rumah tradisional berdasarkan Konfusianisme ide jadi ada tempat tinggal terpisah berdasarkan kelas, jenis kelamin dan usia.Tempat hidup dibagi ke dalam bagian tinggi, pertengahan dan rendah melalui penggunaan bangunan yang terpisah atau ereksi dinding kecil. Bagian yang lebih tinggi terdiri dari anchae (bangunan utama) dan sarangchae (duduk toilet pria) digunakan oleh elit yangban kelas. Bagian bawah, yang terletak paling dekat ke gerbang utama, menjabat sebagai tempat tinggal bagi para pembantu. Bagian tengah adalah menempel pada jungmun (gerbang batin) dan digunakan oleh kelas menengah manajer rumah tangga.

Tempat tinggal yangban memiliki berbagai jenis tempat tinggal bagi penduduk. Tempat tinggal terdiri dari sarangchae, yang bangunan disediakan untuk kepala rumah terus untuk tinggal dan menerima tamu, haengnangchae, yang tinggal pelayan perempat, anchae itu, tempat tinggal batin bagi perempuan kepala rumah tangga, dia anak-anak dan perempuan lain, dan sadangchae, yang tempat suci untuk menghormati roh leluhur keluarga. Setiap bagian dipisahkan oleh dinding dengan pintu, seperti jungmun, yang memungkinkan akses untuk bagian lain dari rumah. Pintu gerbang utama soseuldaemun adalah terhubung langsung ke sarangchae, tapi anchae itu tersembunyi di balik yang jungmun (gerbang batin) sehingga tidak bisa dilihat dari luar. Kuil ini dikelilingi oleh satu set terpisah dinding, sebuah indikasi kesucian nya.

a.) Soseuldaemun

soseuldaemun adalah gerbang utama besar dengan atap atas tinggi. Itu menunjukkan kelas sosial pemilik rumah dan menjabat sebagai simbol yangban rumah

b.) Sarang Daecheong (Lorong-lorong berlantai Kayu – sarangchae )


Daecheong dari tempat tinggal kelas tinggi adalah ruang yang menghubungkan kamar. Sarang Daecheong menjabat sebagai tempat untuk fungsi sosial,menerima tamu dan untuk dinning di musim panas. Kedua sisi balai biasanya dihiasi dengan Sabang tabel yang seladon keramik dan barang antik pada mereka

c.) Sarangbang

Di rumah yangban tradisional, sarangbang adalah ruang utama, di mana kepala rumah tangga tinggal dan diterima tamu di samping untuk mengambil makanan, membaca, memikirkan, dan terlibat dalam kegiatan artistik.

d.) Anbang

anbang ini merupakan pusat tempat tinggal, di mana perempuan kepala rumah tangga menjalankan berbagai aspek rumah tangga, khususnya yang berhubungan dengan pakaian dan makanan. Hal ini sebagian besar berisi berbagai jenis lemari dan dada yang menyimpan pakaian dan selimut. Hal ini juga berisi perabot lainnya, barang-barang rumah tangga kecil dan layar lipat.

e.) Andaechong

andaecheong terdiri dari anbang dan geonneonbang, di mana wanita kepala rumah tangga dan setiap anak perempuan- tinggal. Itu diisi dengan beras, kayu, lemari, meja yang digunakan untuk peringatan leluhur , sebuah meja kecil dengan sebuah pedupaan, kursi, dan lilin.

f.) Giwa (ubin Korea) dan Atap

Giwa adalah kriteria untuk membedakan bangsawan dari rakyat jelata. Mereka digunakan untuk membangun rumah yangban. atap Bentuk yangban termasuk jubung soseul (kombinasi dari jibung paljak dan runcing atap), yang jibung paljak (atap / berbentuk \), ujingak yang jibung (Atap berpinggul) dan jibung matbae (atap runcing).

g.) Dapur

Selama ini, dapur itu baik melekat pada anbang itu, perempuan menggunakan ruang memasak, atau dibangun 75cm-90cm lebih rendah dari kamar lain, yang memiliki ‘ondol’ sistem pemanas. Dalam sistem pemanas, batu di bawah lantai (disebut gudeul) dipanaskan dengan udara panas yang mengalir dari perapian dapur melalui saluran yang dibangun di bawah kamar.

h.) Jangdokdae

jangdokdae adalah teras tempat onggi kecil dan besar (pecah-belah dan barang dari tanah liat ) ditempatkan untuk menyimpan dan berbagai makanan fermentasi. Itu jangdokdae terletak di area bersih dekat dapur. Ini penempatan dipilih karena bisa mendapatkan banyak sinar matahari dan ventilasi untuk melestarikan makanan dan menjaga kesegaran.

i.) sadang

Sadang adalah sebuah kuil di mana meja leluhur dipelihara. Itu terletak di daerah terdalam dari tempat tinggal, di mana ia berpikir untuk menerima energi dari gunung terdekat. Biasanya peringatan silsilah keluarga leluhur dari empat generasi terdahulu yang telah disimpan di kuil.




C.) LANDSCAPE


Pada area bukchon hanok village terdapat berbagai fasilitas yang tersedia dan memiliki sifat ruang yang berbeda - beda pula. Diantaranya adalah :

- Museum
kawasan Bukchon hanok village di kelilingi oleh lebih dari 10 macam museum yang memamerkan beberapa budaya tradisional korea dan cara pengolahan berbagai jenis makanan khas korea.

- Galeri
Pada kawasan ini terdapat setidaknya 14 macam galeri yang menampilkan berbagai karya khas korea selatan

- Workshop tradisional
Terdapat 4 macam workshop tradisional yang menampilkan proses pengerjaan pernak pernik khas korea yang menjadi daya tarik para turis yang berkunjung.

- Guest house
Terdapat pula beberapa guest house yang menyediakan jasa penginapan bagi para turis lokal maupun manca negara untuk dapat merasakan nuansa pedesaan tradisional yang terdapat pada Bukchon hanok village tersebut.




REFRENSI :

- http://hanok.seoul.go.kr/front/eng/intro.do?tab=1
- https://en.wikipedia.org/wiki/Hanok#History
- https://adeulfah.com/2013/03/16/bukchon-hanok-village/
- https://ceritairma.com/2013/10/26/bukchon-hanok-village/
- http://english.visitkorea.or.kr/enu/ATR/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=561382
- https://en.wikipedia.org/wiki/Bukchon_Hanok_Village
- https://2minds1sky.files.wordpress.com/2016/06/ebb681ecb48ceca780eb8f843_1.jpg?w=900
- http://www.kahoidong.com/En/bukchonhtm4-17_e.html